Lingkaran Emosional dalam Infertilitas
May 7th, 2010 by MelindaCare
Kesuburan sangat dipengaruhi oleh keadaan hormonal seorang wanita yang sedikit banyak dapat dinilai dari siklus menstruasinya. Namun ternyata keseimbangan hormon tubuh sangat dipengaruhi oleh kondisi fisik dan non-fisik (terutama kondisi emosional). Contohnya bila seseorang terlalu lelah dalam bekerja atau olahraga berlebihan, maka siklus menstruasi kadang terganggu, kondisi lain seperti stres dalam kehidupan sehari-hari terkadang juga menyebabkan siklus menstruasi berubah. Perubahan siklus menstruasi tersebut dapat berupa menjadi menorrhagia (darah haid yang banyak), metrorrhagia (ketidakteraturan waktu menstruasi), oligomenorrhea (darah haid yang sedikit), bahkan sampai dengan amenorrhea (tidak haid selama 3 siklus). Perubahan siklus menstruasi ini akan menjadi salah satu penyebab terjadinya infertilitas.

Infertilitas dapat mengubah hampir setiap aspek kehidupan seseorang. Kepercayaan diri, harapan akan masa depan, dan hubungan dengan orang lain semuanya dapat terpengaruh. Namun aspek emosional dari infertilitas sering diabaikan dan tidak diterapi. Oleh karena hal ini bersifat sangat pribadi, banyak pasangan yang tidak berbagi pengalaman secara terbuka pada keluarga maupun teman mereka. Sebagai akibatnya, mereka akan merasa tersingkir dan terasing, namun hal yang sebenarnya perlu diketahui adalah bahwa mereka tidak sendiri. Kenyataannya, satu dari enam pasangan di seluruh dunia mengalami masalah infertilitas ini dengan diiringi rasa frustasi.

Hal-hal emosional yang sering muncul dalam infertilitas :
- Kebingungan karena tidak mengerti apa yang terjadi dengan diri dan pasangannya.
- Kecemasan dan ketakutan terhadap ketidakmungkinan memiliki anak.
- Rasa malu oleh karena merasa tubuhnya “tidak berfungsi normal”.
- Kemarahan pada tubuh sendiri (karena merasa tidak mampu), marah terhadap pasangan ataupun orang lain yang sudah mempunyai anak.
- Mempersalahkan diri sendiri: “Kesalahan apa yang telah kuperbuat sehingga aku mendapatkan kesulitan ini?”
- Kekhawatiran berlebih oleh karena berbagai macam tekanan dan tuntutan baik dari keluarga maupun lingkungan sosial.
- Berlebihan dalam hal privasi yang mengarah pada kondisi “mengucilkan diri”.
- Merasa bahwa orang lain tidak akan pernah mengerti kondisi yang sedang dialaminya, terutama kepada orang-orang yang telah memiliki anak.
- Penyangkalan terhadap kondisi tubuhnya, dan mempersalahkan orang lain.
- Kecemburuan terhadap orang yang telah memiliki anak.
- Frustasi dan merasa lelah karena pengobatan yang diberikan memiliki jangka yang cukup panjang, biaya yang lumayan dan tidak menjanjikan kepastian.
- Mudah tersinggung dan sensitif.
- Merasa bahwa hubungan seksual merupakan suatu keharusan dan menjadi arena perang berbagai reaksi emosional.
- Tidak dapat menerima kenyataan mengenai kondisi diri dan pasangannya.

Hal-hal yang dapat membantu mengurangi stres emosional yang terjadi dalam infertilitas :
- Jangan takut untuk menceritakan dan mengungkapkan keingintahuan dan kesulitan Anda pada seseorang yang Anda percaya, dokter ataupun pada pasangan lain yang memiliki keluhan sulit memiliki anak juga, sehingga Anda akan merasakan bahwa Anda tidak sendiri di dunia ini dan masih banyak orang yang bersedia membantu Anda.
- Sangatlah wajar untuk merasa khawatir, cemas ataupun takut, namun banyaklah membaca tentang hal yang berhubungan dengan infertilitas sehingga Anda mengetahui bahwa masih banyak cara untuk membantu hingga Anda hamil.
- Kemarahan, rasa salah dan mempersalahkan kadang timbul, namun janganlah diikuti, karena hal ini terjadi bukan karena sesuatu yang salah, namun jadikanlah ini sesuatu proyek yang belum terlaksana, buatlah suatu rencana, jadwal dan strategi menuju keberhasilan.
- Tidak perlu malu, mudah tersinggung ataupun sensitif, karena ini bukanlah sesuatu yang jarang terjadi ataupun sesuatu yang “tidak normal”, karena di jaman sekarang yang sudah banyak sekali polusi dan gaya hidup yang kurang sehat, maka terbukti bahwa 1 dari 6 pasangan suami istri memiliki masalah infertilitas.
- Benar sekali bahwa pengobatan terhadap infertilitas merupakan perjalanan panjang dan belum ada yang menjanjikan keberhasilan 100% namun perlu diketahui bahwa persentase keberhasilan untuk hamil bagi pasangan subur pun hanyalah 25% sehingga setiap pasangan subur yang menikah belum tentu mendapatkan buah hatinya pada bulan berikutnya. Kabar baiknya pengobatan terhadap infertilitas sudah memiliki angka keberhasilan 20-40% (tergantung tekniknya), sehingga persentasenya sudah sama dengan pasangan subur. Sekarang, yang diperlukan adalah semangat dari tiap pasangan untuk mengikuti program dengan baik dan berani untuk mencoba kembali di siklus berikutnya apabila harapannya belum terwujud.
- Hal penting lainnya adalah komunikasi yang baik antara suami dan istri, baik verbal maupun seksual, sehingga perjalanan panjang ini tidak akan dipenuhi oleh emosi negatif melainkan akan membawa kebahagiaan.
- Ikutilah kelas-kelas relaksasi ataupun belajar membuka hati sehingga diperoleh ketenangan dan kedamaian hati sehingga semua stres dan emosi negatif tidak muncul tumpang tindih melainkan akan diperoleh kesehatan tubuh dan organ reproduksinya, serta kesadaran dan semangat untuk menggapai harapan yang membahagiakan.

~ Julius Pangayoman-Melinda Hospital ~



